Sabtu, 13 November 2010

Bongkar Kedok Barat




Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh mengatakan, Tehran tidak akan tunduk terhadap tekanan. Ia menuding Barat berusaha menciptakan ketegangan di Timur Tengah.

"Dalam tiga dekade terakhir, adidaya dunia dan sekutu mereka senantiasa berupaya menciptakan ketidakamanan dan mengganggu ketenangan umat Islam di Timur Tengah," kata Farazandeh kemarin (Jumat,12/11) sebagaimana dilaporkan Press TV.

"Barat melalui propaganda anti-Iran, ingin memaksa Tehran bertekuk lutut, tapi ini tidak akan pernah terjadi," tegasnya. "Ketika Barat menyadari tidak bisa menghadapi sikap tegas Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang selalu menyuarakan keadilan, mereka mencoba untuk memprovokasi dan menghasut massa pasca pemilu presiden pada 2009 lalu," tambah Farazandeh.

"Meskipun Barat menuding Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir dan merusak perdamaian dunia, kami telah berulang kali menegaskan bahwa aktivitas nuklir kami bertujuan damai dan kami hanya berusaha untuk memproduksi energi nuklir," jelas Farazandeh.

Di saat AS mengembangkan dan menggunakan senjata nuklir, Washington telah mendorong pengesahan sejumlah resolusi di Dewan Keamanan PBB dan menjatuhkan sanksi sepihak atas Iran dengan tuduhan negara Islam ini mengembangkan program nuklir militer.

Para pejabat Tehran berulang kali membantah tuduhan itu dan menekankan bahwa sebagai anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran berhak memperoleh energi nuklir damai.

Farazandeh mengatakan, tidak ada perbedaan antara Presiden Barack Obama, yang mengusung slogan perubahan dan mantan Presiden George W. Bush. "Obama memiliki kebijakan yang sama seperti Bush, karena itu kita masih menyaksikan berlanjutnya perang di Afghanistan, Irak dan Palestina" tegasnya.

Farazandeh menandaskan, meski Obama menjanjikan penarikan pasukan Amerika dari Irak dan Afghanistan setelah terpilih sebagai presiden, tapi ia justru mengirimkan sekitar 30.000 tentara tambahan ke Afghanistan dan ketika kekerasan di Irak meningkat, ia malah diundang ke Norwegia dan diberi Hadiah Nobel Perdamaian. (IRIB/RM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar